Jumat, 11 Maret 2011

Kecelakaan Reaktor Nuklir Chernobyl

Kecelakaan reaktor ini adalah kecelakaan reaktor yang paling terkenal. Karena efek yang ditimbulkan cukup dahsyat dan menyebabkan korban yang cukup banyak. Hal ini pula yang menyebabkan penolakan-penolakan berdirinya PLTN di berbagai negara.
Kecelakaan Reaktor Nuklir Chernobyl terjadi pada tanggal 25 April 1986 di negara bagian Ukraina (sebuah negara bagian Uni Soviet pada waktu itu). Reaktor tersebut merupakan jenis reaktor PWR (Pressure Water Reactor) dengan siklus yang seperti dijelaskan dalam bahasansiklus energi dalam reaktor nuklir. Pendingin yang digunakan adalah air biasa dengan moderator grafit.
Pada hari sebelumnya, reaktor dijadwalkan akan di-shut-down (dimatikan) dengan cara menurunkan batang kendali yang berfungsi untuk menyerap neutron. Reaktor tersebut didesain bukan hanya untuk membangkitkan energi listrik tetapi juga untuk menghasilkan plutonium untuk senjata nuklir. Desain reaktor seperti ini tidak digunakan dalam reaktor di negara lain, walaupun sama-sama menghasilkan plutonium tetapi tidak bisa digunakan untuk senjata nuklir. Desain reaktor seperti ini akan memberikan harga reaktivitas void koefisien (reaktivitas karena perubahan pendingin dari cair menjadi uap) jika berada dalam energi rendah. Artinya jika uap dalam reaktor cukup tinggi akan menghasilkan jumlah neutron yang terus meningkat, dan mengakibatkan kelebihan neutron atau disebut keadaan super kritis (seperti yang dibahas dalam Konsep dasar Reaktor Nuklir). Jika kelebihan neutron akan memicu reaksi fisi berantai, dan boom.. reaktor bisa meledak.
Reaktor dijadwalkan untuk dimatikan, batang kendali diturunkan, dan daya reaktor turun. Tentu saja reaktor tidak langsung mati, karena perlu waktu untuk penyerapan neutron. Reaktor beroperasi dalam energi rendah dan sangat tidak stabil dalam keadaan ini, pada saat pompa pendingin dimatikan, teras reaktor bertambah panas, pendingin banyak yang berubah menjadi uap, dan menghasilkan reaktivitas koefisien positif. Terdapat kesalah fahaman antara pengendali teras reaktor dan pengendali pendingin reaktor.
Setelah daya reaktor diturunkan, pengendali pendingin menurunkan aliran pendingin ke dalam teras reaktor. Tetapi,  pengendali teras reaktor menganggap daya turun terlalu cepat dan pengendali teras menaikkan kembali daya reaktor dengan cara memcabut batang kendali yang berfungsi menyerap neutron dalam teras reaktor. Di antara kedua pengendali ini terjadi kesalahan komunikasi, begitu mereka menyadari bahwa ada kesalahan prosedur, semua sudah terlambat dan reaktor pun dalam hitungan detik meledak.
Jika dilihat dari uraian di atas, terjadi kecelakaan reaktor tersebut karena desain reaktor yang tidak stabil dan kesalahan operator. Desain reaktor seperti ini dikategorikan dalam desain reaktor generasi ke-2. Reaktor dibuat seefisien mungkin tapi kurang menjamin keamanannya. Sejak peristiwa itu ahli sains dan rekayasa reaktor nuklir terus bekerja keras untuk membuat desain reaktor yang lebih aman. Muncullah desain reaktor yang disebut passive safety. Reaktor didesain untuk bisa aman tanpa tergantung pada operator. Prinsipnya adalah, jika tempertur dalam teras reaktor, sistem akan memberikan reaktivitas umpan balik yang berharga negatif dan reaktor akan kembali stabil setelah beberapa waktu. Analisis kecelakaan reaktor seperti ini banyak dilakukan ahli sains dan rekayasa reaktor nuklir untuk melihat tingkat keamanan reaktor nuklir.
Dengan dikembangkannya desain-desain reaktor dengan pasif safety, kecelakaan reaktor seperti Chernobyl hampir tidak mungkin lagi terjadi.

adapted from:
http://blog.unila.ac.id/yantiyulianti/2010/05/06/kecelakaan-reaktor-nuklir-chernobyl/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar