![]() |
| Aksi Damai Hari Lingkungan Hidup sedunia |
Maaf telat banget, cuma admin lagi sibuk. hehehe Langsung saja. Puluhan mahasiswa Jurusan Kesehatan Lingkungan Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan (Poltekes) Pontianak, menggelar aksi damai di bundaran Tugu Degulis Untan, Senin (6/6).
Aksi itu memperingati hari lingkungan hidup sedunia 5 Juni. Mereka menyuarakan ajakan menjaga lingkungan. Aksi dimulai sekitar pukul 15.30. Tak hanya berorasi, peserta aksi juga membawa spanduk dan membagikan pin yang bertuliskan ajakan menjaga lingkungan kepada para pengendara yang melintas.
Koordinator Lapangan (Korlap), Eko Hadma Dewantara berharap peringatan hari lingkungan hidup sedunia yang jatuh kemarin dapat dijadikan momentum bagi masyarakat untuk lebih meningkatkan kecintaan terhadap lingkungan. “Kita ingin mengingatkan masyarakat untuk sama-sama bisa menjaga kelestarian lingkungan hidup,” kata Eko menjawab Equator di sela aksi.
Menurut Eko, upaya menjaga kelestarian lingkungan merupakan kewajiban setiap orang. “Minimal menjaga lingkungan di sekitar tempat tinggalnya, misalnya dengan tidak membuang sampah sembarang,” seru Eko.
Mahasiswa asal Kabupaten Sanggau itu menilai, sejauh ini lingkungan hidup di Kalbar sudah cukup memprihatinkan. Masih banyak masyarakat melakukan kegiatan yang dapat memicu timbulnya kerusakan terhadap lingkungan.
Aktivitas perusakan lingkungan yang sering dijumpai itu antara lain penebangan liar, pertambangan liar, dan pembakaran lahan yang tidak terkontrol. Kemudian upaya ekspansi sektor perkebunan kelapa sawit yang kebablasan dan tidak mempertimbangkan tata ruang yang ada.
Aktivitas seperti itu, menurut Eko, jelas-jelas akan menimbulkan dampak buruk bagi lingkungan. “Sekarang sudah sering kita lihat terjadinya banjir besar di sejumlah wilayah, kekeringan panjang, dan suhu yang selalu meningkat,” tukasnya.
Eliya, peserta aksi lainnya berharap pemerintah lebih memerhatikan kelestarian lingkungan di Kalbar. Ia meyakini Kalbar cukup rentan terkena dampak buruk kerusakan lingkungan.
“Pontianak juga termasuk daerah yang rawan, terutama terjadinya banjir. Kondisi ini disebabkan karena Kota Pontianak merupakan kota yang berada di bawah permukaan air laut,” katanya.
Eliya berharap pemerintah melakukan kontrol secara ketat terhadap pemanfaatan lingkungan di Kalbar. Jika terjadi pelanggaran, para pelakunya harus diberikan tindakan tegas sesuai dengan aturan hukum yang berlaku.
“Jangan ada kesan pembiaran. Sebab kalau proses perusakan lingkungan ini tidak ditindak, anak cucu kita nanti akan mewarisi lingkungan yang tidak sehat,” seru Eliya. (bdu)

